Skulizm
/ Feature / Skulizm
REPORTER : Sobri Hai
Rabu, 21 Agustus 2013
Cara Menghargai Tubuh Kita, Bukan dengan "Tes Keperawanan"!

Perlu diketahui bagi kita, bahwa selain diri kita, yang berhak menyaksikan kelamin adalah ibu kandung kita. Sekali pun dokter, maka seorang ibu wajib mendampinginya. Jadi jangan tunjukan pada siapa pun selain dua orang itu, kamu dan ibumu.

Maraknya kasus tes keperawanan yang kontroversial bagi siswi di Prabumulih, Sumatera Selatan ini mengajarkan kita untuk makin menghargai tubuh kita sendiri. Retno Listyarti menyarankan kepada siswa agar memiliki kesadaran untuk menjaga dan melindungi tubuh terutama bagian reproduksi kita.

"Ada berbagai cara untuk mencegah terjadinya seks bebas di kalangan siswa, dan kunci utamanya adalah pendidikan. Pendidikan membuat kita mengerti terhadap konsekuensi dari sebuah sikap yang dipilihnya. Pendidikan membangun kesadaran peserta didik untuk menghargai tubuhnya, melindungi tubuhnya, dan memahami alat reproduksinya, itu harus diutamakan," jelasnya saat menanggapi kasus Tes Keperawanan, Rabu (21/8).

Makanya, lanjut Retno adalah kita Juga penting untuk tahu isi dari UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Tes Keperawanan adalah salah satu bentuk kekerasan seksual yang dilakukan 'negara (dinas pendidikan)' terhadap anak (peserta didik), ini jelas melanggar HAM, karenanya kita sendiri yang harus sadar dan menolak itu secara tegas, sebab yang dirugikan adalah siswa," katanya lagi.
Mengantisipasi itu, Ia kemudian menunjukkan bagaimana cara kita menghargai tubuh diri sendiri. Secara tegas, setiap siswa berhak menolak siapapun untuk menyentuh tubuh kita, baik itu guru, orangtua, atau orang dewasa yang lain.

"Misalnya tolak jika dicolak-colek, di pegang-pegang, atau dielus sekali pun, dan sentuhan lain-lain. Pahami alat reproduksi sendiri itu mengandung risiko, misalnya perempuan bisa hamil, laki-laki bisa juga terkena penyakit yang bisa berdampak negatif pada kesehatan alat reproduksinya. Jadi jaga soal itu," ajaknya.

Soal mengikuti tes keperawanan, terutama bagi teman-teman perempuan, Retno tidak menyetujuinya, sebab semua itu tidak ada korelasinya untuk suatu siswi menempuh suatu pendidikan. Sebab pendidikan adalah hak setiap warga.

PENULIS

Dosir Weis

Memulai karir sebagai graphic designer Majalah HAI. Namun, karena terlalu lincah di lintasan DUNIA MAYA saat remaja, akhirnya sekarang dirinya terjerembab sebagai Digital Content Producer untuk www.hai-online.com :)

Comments :
comments powered by Disqus