Sabtu, 07 Agustus 2010
  • View : 1009

  •      
  • Bookmark
  • Share

Tak Bisa Berhenti Berfikir

Nggak bisa berhenti berpikir tentang segala hal. Dari hal kecil, sampe hal gede. Dari hal-hal yang bukan masalahnya, hingga hal-hal yang emang udah lama jadi masalahnya

(Penulis : Atha/Ayu)

 Ceritanya, artikel ini dibuat karena Hai  nerima e-mail berisi curhatan seorang teman. Bukan hanya satu jumlahnya. Tapi hampir sepuluh e-mail! Dan, isinya sama-sama aja.

     Intinya, teman ini mengeluh kalo hidupnya selalu nggak tenang. Kepalanya selalu terasa mumet lantaran dia nggak bisa berhenti berpikir tentang segala hal. Dari hal kecil, sampe hal gede. Dari hal-hal yang bukan masalahnya, hingga hal-hal yang emang udah lama jadi masalahnya.

   Alhasil, teman ini jadi parno sendiri, jack . Dia ngerasa kepalanya bukan lagi berbentuk kepala normal. Melainkan, berbentuk jamur raksasa yang berat dan akar-akarnya merembet ke mana-mana, menimbulkan rasa nyeri yang nggak terkira!

    Hmmmm, aneh juga nih kasus.... Sumpah, Hai jarang banget dengar orang yang punya masalah seperti ini. Itu sebabnya psikolog dari www.e-psikologi.com , Lilly Harmawan Setiono, sengaja diajak ngobrol.

   Normal atau nggak ya kalo kita nggak bisa berhenti berpikir tentang segala hal?

   ”Kalo ditanya normal atau nggak, jawabannya sebenarnya normal. Hanya aja yang dipertanyakan selanjutnya bagaimana yang bersangkutan kemudian bereaksi terhadap pikiran-pikirannya tersebut. Kalo kita berpikir tentang sesuatu, harusnya kan ada tindak lanjut dalam bentuk yang konkrit untuk mengatasi pikirannya tadi,” ujar psikolog yang akrab dipanggil Bu Lilly ini. 

   Bu Lilly bilang, kondisi kepala yang serasa kayak jamur raksasa itu kemungkinan besar pernah dialami oleh semua orang kok. Terutama ketika masa remaja! Soalnya,

   ” Remaja memiliki rasa ingin tau yang besar. Jadi, kondisi di mana dia nggak bisa berhenti berpikir tentang segala hal ibarat melatih diri mengenali lingkungan sekitarnya. Dari yang dia rasa nggak mampu untuk dihadapi, hingga yang dia rasa mampu untuk dihadapi.”

Tapi, Bu Lilly juga ngejelasin bahwa nggak tertutup kemungkinan kalo masalah seperti ini akan menghinggapi orang-orang pemalas, yang kerjanya cuma bermimpi dan bermimpi! Maklum, mereka kan cenderung pengen mendapat apa-apa dengan cara instan. So , karena menggapai mimpi terkadang butuh usaha keras, alhasil karena ogah ngerasain jatuh-bangun, mereka memilih buat mendapat kepuasan semu lewat khayalan!

****

Lanjut! Apa sih efek dari masalah kayak gini?

”Orang yang nggak bisa berhenti berpikir tentang ini-itu tapi nggak bertindak apa-apa, ya terang aja jadi mumet! Pikiran-pikiran tersebut akan menumpuk di kepala tanpa bisa disalurkan untuk memperoleh kebaikan bagi diri sendiri. Nah, kalo tumpukan pikiran itu udah nggak terbendung, malah bisa mengacaukan persepsi terhadap diri sendiri dan bikin yang bersangkutan hidup dalam fantasi. Nggak real  alias nggak bisa menghadapi kenyataan,” beber psikolog bersuara lembut ini.

Itu sebabnya, Bu Lilly berpesan kalo kita sadar tengah mengalami kondisi seperti ini, buru-buru lah berusaha kembali jadi ”normal”. Maksudnya, mencoba mencari jalan keluarnya, bukan malah membiarkan dirinya terbuai kepuasan semu. Apalagi kalo sebenarnya rasa nggak nyaman udah mulai menyusup, seperti yang dialami oleh teman yang mengirim e-mail itu!

Cuma, gimana caranya ya?
   ”Di-tes aja satu per satu pikiran-pikiran tersebut. Telusuri dari mana datangnya dan kenapa ‘dia’ bisa datang. Lalu, coba memikirkan ulang dengan lebih kritis. Baru setelah itu nyari solusi buat menyalurkannya,” kata Bu Lilly.

Selain itu, kita juga harus menguatkan hati, cing. Supaya bisa ngerem pikiran lain yang mau masuk, sebelum pikiran-pikiran yang kadung numpuk bisa diselesaikan sebagian. Simpelnya, ketika kita sedang mencoba memikirkan ulang satu per satu pikiran yang ada dengan lebih kritis, berusaha fokus dulu sama yang itu!

”Kekuatan ini juga diperlukan agar selagi yang bersangkutan mengetes  satu per satu pikiran-pikiran tersebut, nggak malah berbuntut jadi sibuk berasumsi. Soalnya saat sedang berusaha mencoba memikirkan ulang dengan lebih kritis, biasanya yang lebih gampang muncul adalah asumsi-asumsi. Tepatnya, asumsi-asumsi yang ujung-ujungnya berlarian ke hal yang negatif,” tutup Bu Lilly.

Nah, Semoga lo bisa mengistirahatkan otak sejenak. (Atha/ ayu)


 


Related News

Cewek Hai

Niat terpendamnya cuma satu, yaitu jadi agen rahasia!

93 Vote
button_cewekhai_lainnya