Sebuah kekesalan pada Negeri -yang katanya- Demokrasi
Curhatku sendiri
dipancung..
bayangkan mati dalam satu tarikan napas dengan kepala berpisah dengan badan..
kata mereka itu mati dengan terhormat..
cih, senobel apapun disebutnya. mati itu ya mati. akan ada mereka yang ditinggalkan. akan ada mereka yang berubah nasib. akan ada mereka yang menangis. akan ada mereka yang menggantungkan hidupnya pada "yang dipancung" itu terancam putus sekolah, hilang masa depannya. salah siapa ?
bahkan kambing pun sudah enggan mempermasalahkan ini salah siapa ?
siapa pun yang salah, tak ada yang pernah mau menebus salahnya.
dipancung..
bayangkan anak yang ditinggaalkan. yang tumbuh dengan ejekan "anak pancung". ah, aku ingin lupa. aku ingin lupa kalau aku generasi penerus bangsa ini. apa yang bisa kuubah. caci maki yang menggerogoti istana. apa yang bisa kuubah. pekerjaan yang menggigit wanita desa. apa yang bisa kuubah. pendidikan yang memilih yang dididiknya. apa yang bisa kuubah. para hedonis yang manja.
dipancung..
coba kau bayangkan mati dengan cara itu ?
disaat para sosialita menghabiskan uang jajannya untuk sekedar beli taplak meja makan buat anjingnya. ada ratusan anak buangan di belakang rumahnya butuh sekolah. butuh dididik buat cari makan.
di saat para hedonis berjalan-jalan dengan mobil sport mewahnya. ada ribuan anak-anak jalanan di pinggir perempatan butuh perhatian.
TAPI KITA TAK ACUH.
budaya bodoh yang dipelihara seperti memelihara anjing yang terlalu jinak.
ah, aku ingin lupa. lupa kalau aku anak bangsa ini.

















