#CuttingEdgeHeroes : Mika
Bangga jadi filmaker Indonesia!
“Halo, gue Mika! mungkin Matematika gue 4,5, tapi gue filmmaker, dan mungkin suatu saat nanti gue bisa lebih sukses dari lo.”
Siapa Mika? Ini dia...
Namanya Adhyatmika, tapi cukup panggil dia, Mika. Bersentuhan dengan film sebenarnya sudah dia alami sejak kecil. Tapi, dia merasa makin dekat ketika duduk di bangku SMA, tahun 2010 lalu.
“Gue SMA cuma sekitar dua tahun. Gue punya vertigo, yang bikin gue sering nggak masuk dan banyak di rumah. Saat itulah gue banyak nonton film,” ujarnya membuka cerita.
Hampir semua jenis film dia lahap. Akhirnya, dia pun menemukan “sesuatu” pada film, yang mengubah hidupnya sampai sekarang.
“Gue menemukan dunia lain di dalam film. Ada dunia mimpi di sana. Dan yang terpenting, kita bisa share mimpi kita dengan orang lain melalui film,” lanjutnya.
Mika pun mulai berani bermimpi. Hingga, dia memutuskan untuk bilang ke orang tuanya kalau dia ingin menjadi filmmaker. Bokapnya mendukung, tapi nyokapnya khawatir. “Apa bisa hidup dari film?” begitu tanya nyokapnya.
Mika membuat film pertama saat duduk di Kelas XII SMA. Film pendek itu dia tujukan untuk teman-teman dan guru-gurunya. Saat itu Mika merasa dirinya bukan anak yang punya kehidupan sosial, karena jarang masuk sekolah. Tapi, dia nggak pernah malu atau berpikiran negatif pada siapapun.
Lulus SMA, dia memilih kuliah film di luar negeri, meski sebenarnya waktu itu dia diterima di beberapa sekolah film di Jakarta. Dua tahun mengenyam pendidikan film di Lasalle College of The Arts, Singapura, Mika kembali ke Indonesia berbekal pengetahuan yang bermanfaat untuknya.
Sesampainya di Indonesia, penikmat The Beatles ini merasa asing dengan sekitar, namun sangat haus berkarya.
“Gue merasa seperti alien. Tapi, semua perasaan itu hilang ketika ada teman yang ngajak ikut kompetisi film lokal,” ujarnya.
Film Mika nggak menang. Baru ketika kedua kalinya mengikuti sebuah kompetisi, filmnya menang. Hebatnya, kali ini kompetisinya justru tingkat internasional! Film berjudul Masih Belajar itu memenangkan Democracy Video Challenge (DVC) di Amerika Serikat. DVC adalah kompetisi video pendek untuk merayakan demokrasi tingkat dunia yang digelar oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) untuk kedua kalinya pada tahun 2010.
Mika menang dengan film yang idenya tercetus hanya dalam tiga jam brainstorm, yang rampung dalam tiga minggu proses syuting dan produksi.
Menjadi pemenang utama kompetisi ini, Mika berkesempatan terbang ke negeri paman Sam. Mengunjungi Motion Picture Association of America (MPAA), markas PBB di New York, dan melihat kantor Directors Guild of America (DGA) di Los Angeles adalah hadiahnya.
“Itu semua kehormatan buat gue. Mungkin gue beruntung menjadi filmmaker film pendek Indonesia yang pernah ikut kompetisi tersebut dan berangkat ke sana. Tapi tetap, buat gue yang paling penting adalah: gue bisa membawa nama Indonesia di dunia,” komentar Mika tentang prestasinya itu.
Baru-baru ini Mika juga diundang mengikuti Korea International DMZ Film Camp yang diselenggarakan oleh Korean National Commision for Unesco dan DMZ Documentary Film Festival di kota Paju, Korea Selatan. Menjadi peserta perwakilan Indonesia diantara peserta dari negara-negara seperti Perancis, Filipina, Mexico, Russia, hingga Montenegro adalah jalan lainnya (lagi) dalam perwujudan mimpi seorang Mika. Misi selanjutnya, Mika ingin membuat festival film yang menantang filmmaker remaja Indonesia untuk bersuara lewat film.
Nama Lengkap:
Adhyatmika
Tempat/ Tanggal Lahir: Jakarta, 21 Januari 1989
Hobi: menyanyi, nonton film, dengar musik, nonton bola
Facebook:
Adhyatmika Euuy
Twitter:
@mikasipandaacak
Prestasi:
- Pemenang Democracy Video Challenge (DVC) 2010

















