My School Page
/ Skulizm / My School Page
REPORTER : Rian Sidik
Selasa, 22 Mei 2012
Indonesia Berjaya di Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) 2012

Muhammad Luthfi Nurfakhri dari SMAN 1 Bogor berhasil membawa harum nama Indonesia dalam ajang Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) 2012 yang diselenggarakan pada tanggal 13-18 Mei lalu di Pittsburgh, Amerika Serikat. Lutfi berhasil memenangkan peringkat ketiga dalam ketegori teknik (elektris dan mekanik) dan mendapatkan penghargaan sebesar US$ 1.000 untuk proyeknya yang berjudul ‘Digital Leaf Color Chart’.
 
 Lutfi menempati posisi ketiga untuk kategori rekayasa elektrikal dan mekanikal bersama 10 peserta lainnya dari beberapa negara. Sensor optik rancangan Lutfi menjanjikan akurasi pengukuran yang tinggi, dan kalau diproduksi secara massal harganya akan lebih murah daripada barang sejenis yang kini beredar di pasar.  Menurut Lutfi, alat ukur buatan Filipina yang banyak beredar umumnya akurasinya buruk karena sangat bergantung pada cahaya matahari. Ada alat lain yang lebih akurat, buatan Amerika, tetapi harganya sangat mahal, sekitar 1.500 dollar atau sekitar Rp 13.500.000. 

 Alat rancangan Lutfi bisa lebih akurat karena menggunakan dua sensor optik cahaya sehingga ketika ada fluktuasi cahaya dari luar, alat itu tidak terpengaruh. Harganya bisa lebih murah, sekitar Rp 800.000 jika diproduksi secara massal karena alat tersebut menggunakan sensor, bahan konstruksinya dari viber, dan pemogramannya gratis. 
Sedangkan untuk tempat pertama dikategori lain berhasil di raih oleh Jack Andraka, 15 tahun, dari Crownsville, Amerika Serikat. Berkat penemuan metode baru yang dapat mendeteksi kanker pankreas, pada  acara Intel International Science and Engineering Fair tahun ini sebagai bagian dari program Society for Science & the Public

Dengan menggunakan medium berbasis kertas tes diabetes, Jack berhasil menciptakan sensor celup  sederhana untuk menguji darah atau urin untuk menentukan apakah pasien mengidap kanker pankreas stadium awal. Hasil kajian itu memiliki akurasi lebih dari 90 persen dan menunjukkan bahwa sensor ciptaannya yang akan segera dipatenkan ini 28 kali lebih cepat, 28 kali lebih murah dan lebih dari 100 kali lebih sensitif dibandingkan perangkat tes yang telah ada saat ini. Melalui pencapaiannya itu, Jack berhak menerima penghargaan Gordon E. Moore, sebuah penghargaaan senilai US$ 75.000 yang diberikan untuk menghormati salah satu pendiri dan mantan CEO serta komisaris Intel.

Salut untuk teman-teman yang sukses dengan penemuannya! Semoga kiprah Lutfi dapat menginspirasi para pelajar di Indonesia untuk tidak pernah berhenti belajar!

PENULIS

Andwi F. Larasati

Penulis sekaligus reporter dan editor Majalah HAI, menggeluti dunia jurnalistik sejak tahun 2005 dan kini mengarungi kehidupan pergaulan remaja via dunia digital di www.hai-online.com bersama awak HAI lainnya.

Comments :
comments powered by Disqus