Membedah Borobudur
Siapa sih diantara kita yang belum pernah ke tempat ini? Candi yang pernah menjadi salah satu dari tujuh ke ajaiban dunia ini menyimpan berbagai nilai-nilai dibalik reliefnya.
Lo pasti sering denger dan melihat Candi Borobudur. Tapi belum tahu kan apa sejarah yang ada di balik candi nan megah tersebut? Candi Budha yang terletak di Magelang, Jawa tengah ini terbentuk pada tahun 800-an Masehi yang saat itu daerah ini dikuasai oleh pemerintahan Wangsa Syailendra.
Candi Borobudur terbentuk dari sepuluh tingkatan Bodhisattva. Tiap tingkatnya ternyata mengandung filosofi yang diyakini apabila manusia mengikuti makna yang terkandung di reliefnya tersebut, maka manusia tersebut bisa dikatakan manusia sempurna.
Seperti tingkatan paling bawah atau yang biasa disebut Kamadhatu yang mengandung arti keadaan dunia yang masih dikuasai oleh karma atau ‘nafsu kecil’. Di tingkatan ini juga terdapat cerita Kammawibhangga yang dikisahkan melalui 120 panel disisi temboknya.
Empat tingkatan di atasnya tedapat Rupadhatu, yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu tetapi masih terikat rupa atau bentuk. Dalam tingkatan ini memisahkan antara alam bawah atau dunia dengan alam atas atau surga.
Lanjut keatas dari lantai lima sampai dengan tujuh dinamakan Arupadhatu yang berarti kehidupan yang sudah tidak berupa atau tidak berbentuk. Lantai yang berbentuk lingkaran melambangakan alam atas dimana manusia sudah bebas dari segala keinginan duniawi namun masih belum mencapai kesempurnaan atau nirwana.
Tingkatan terakhir atau paling atas terdapat Stupa yang tertinggi dan terbesar. Stupa ini berbeda dengan yang lain karena stupa ini menggambarkan kesempurnaan.
Dulunya terdapat dua patung singa, beberapa batu berbentuk tangga dan gerbang serta beberapa patung budha di komplek candi ini yang saat ini telah tiada. Karena pada masa colonial belanda patung tersebut diberikan kepada Raja Thailand, Chualalongkorn saat mengunjugi Borobudur pada tahun 1896.
Untungnya Cuma segitu doang yang diambil. Kalo banyak-banyak, bisa abis harta warisan budaya Indonesia.

















